Minggu, 30 Desember 2012

makalah belajar dan pembelajaran



BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
TEORI BELAJAR HUMANISME DAN APLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN



DISUSUN OLEH :

1. FEFEN RIUSE                             NPM : 07210885
2. IRFANI SUTYONO                   NPM : 10211703
3. MUKHLISIN                               NPM : 07210901
4. M. LUKMAN EFENDI              NPM : 10211708
5. TONI JULIANTO                      NPM : 10211757
6. YAN ERLI KURNIAWAN       NPM : 10211731
7. YUDI KHOHAR             NPM : 10211732






FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO
TP. 2011/2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa , karena atas limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “TEORI BELAJAR HUMANISME DAN APLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN”. Sebagai bukti tanggung jawab terhadap tugas yang diamanatkan oleh dosen pembimbing materi belajar dan pembelajaran pada kelompok kami.

Makalah yang kami buat ini, mencakup aspek-aspek yang kaitannya dengan teory belajar humanisme meliputi: apa itu teory belajar humanisme, tokoh-tokoh berikut aliran dari teory tersebut misalnya: Abraham Maslow, Carl rogers, Arthur Combs, Kolb, Honey dan Mumford, serta Habermas dimana setiap tokoh memiliki pandangan tersendiri. Dalam makalah ini juga ditampilkan kelebihan dan kelemahan dari teory humanisme. Sebagai pemantapan kami juga memasukan aplikasi teory belajar humanisme terhadap pembelajaran, hal ini ditujukaan agar pembaca dapat lebih memahami apa itu teory belajar humanisme.

Dengan terselesainya makalah ini, kami juga tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada: Prof.Dr.H. karwono, M.pd yang telah membimbing kami dalam pembuatan makalah ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan motivasinya sehingga kami terdorong untuk menyelesaikan tugas yang telah diamanatkan pada kami.

Kami menyadari bahwa, dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan baik dari segi materi yang disajikan maupun dari struktur bahasa yang digunakan, itu semua tidak lain disebabkan oleh keterbatasan yang kami miliki, Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik, dan saran dari pembaca yang semua itu berguna untuk pembelajaran kami selanjutnya. Akhir kata mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca sekalian.


                                                                                                            Metro, oktober 2011
                                                                             
              
                                                                                               Penulis








DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL....................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR.................................................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................................. 1
A.    Latar Belakang................................................................................................................... 1
B.     Sistematika......................................................................................................................... 1
BAB II TEORY BELAJAR MENURUT PANDANGAN HUMANISME
A.    Teory Belajar yang Berpijak Pada Pandangan Humanisme............................................... 3
B.     Tokoh Berikut Aliran Teory Belajar Humanisme.............................................................. 5
C.     Kelebihan dan Kelemahan Teory Belajar Humanisme.................................................... 13
BAB III APLIKASI TEORY BELAJAR HUMANISME TERHADAP PEMBELAJARAN
A.    Peserta Didik dan Guru................................................................................................... 14
B.     Aktifitas dalam Proses Pembelajaran............................................................................... 16
C.     Bentuk-bentuk  Pendidikan Humanisme......................................................................... 17
BAB IV PENUTUP
A.    Kesimpulan...................................................................................................................... 19
B.     Saran................................................................................................................................ 19

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................................... 2






BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Belajar bukan hanya menghafal dan bukan pula mengingat, tetapi belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri siswa. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukan dalam berbagai bentuk, seperti perubahan pengetahuanya, sikap dan tingkah laku ketrampilan, kecakapanya, kemampuannya, daya reaksinya dan daya penerimaanya. Jadi belajar adalah suatu proses yang aktif, proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada pada siswa. Belajar merupakan suatu proses yang diarahkan pada suatu tujuan, proses berbuat melalui situasi yang ada pada siswa.
Dalam suatu pembelajaran juga perlu didukung oleh adanya suatu teori dan belajar, secara umum teori belajar di kelompokan dalam empat kelompok atau aliran meliputi:            (1) Teori Belajar Behavioristik (2) Teori Belajar Kognitif (3) Teori Belajar Humanistik (4) Teori Belajar Sibernik.
Untuk memahami lebih lanjut maka dalam makalah ini akan membahas mengenai Teori Belajar Humanistik. Dimana di dalamnya kami juga menyajikan aplikasi dari teory belajar humanism terhadap pembelajaran.
B. Sistematika
Dalam makalah ini kami rancang menjadi tiga bab, yang mana setiap bab akan membahas sub-sub yang sesuai dengan judul bab tersebut. Ini dapat dilihat dari rincian berikut:


BAB I PENDAHULUAN, yang berisikan latar belakang masalah dan sistematika dari makalah kami. Hal ini ditujukan agar pembaca dapat mengerti diawal sebagai kesan awal.


BAB II TEORY BELAJAR MENURUT PANDANGAN HUMANISME , yang mana di dalamnya terkandung: pengertiannya, tokoh berikut alirannya, dankelebihan serta kekurangan dari teory humanism.
BAB III membahas APLIKASI TEORY BELAJAR HUMANISME TERHADAP PEMBELAJARAN, yang di dalamnya meliputi: peserta didik dan guru, aktifitas dalam proses belajar, dan bentuk pendidikan humanism.

BAB IV  PENUTUP, yang berisikan penarikan kesimpulan kami terhadap penjelasan-penjelasan dan harapan kami pada kritik dan saran pembaca demi penyempurnaan.




















BAB II
TEORY BELAJAR MENURUT PANDANGAN HUMANISME
Teori humanistik menjelaskan bahwa poses belajar harus dimulai dan ditunjukan untuk kepentingan memanusiakan manusia (proses humanisasi). Teori humanistik sifatnya lebih menekankan bagaimana memahami persoalan manusia dari berbagai dimensi yang dimilki, baik dimensi kognitif, afektif, dan psikomotor. Teori humanistic tidak bisa serta merta mampu menciptakan peserta didik menjadi sosok manusia yang ideal, dalam proses pembelajaran harus mampu menciptakan situasi dan kondisi yang menyebabkan manusia memilki kebebasan untuk beraktualisasi, kebebasan untuk berpikir alternatif, dan kebebasan untuk menemukan konsep dan prinsip.
A. Teory Belajar yang Berpijak pada Pandangan Humanisme
1. Pengertian Teori Belajar Humanisme
Pengertian humanisme yang beragam membuat batasan-batasan aplikasinya dalam dunia pendidikan mengundang berbagai macam arti pula. Sehingga perlu adanya satu pengertian yang disepakati mengenai kata humanisme dalam pendidikan. Dalam artikel “What is Humanisme Education?”, Krischenbaum menyatakan bahwa sekolah, kelas, atau guru dapat dikatakan bersifat humanisme dalam beberapa kriteria. Hal ini menunjukkan bahwa ada beberapa tipe pendekatan humanisme dalam pendidikan. Ide mengenai pendekatan-pendekatan ini terangkum dalam psikologi humanisme.
Menurut Teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. \proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambatlaun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.
Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya
Teori belajar humanisitik sering dikritik karena sulit diterapkan dalam konteks yang lebih praktis. Teori ini dianggap lebih dekat dengan bidang filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi daripada bidang pendidikan itu sendiri, sehingga agak sulit untuk mengaplikasikannya ke dalam langkah-langkah yang lebih kongkret dan praktis.
Namun karena sifatnya yang ideal, yaitu memanusiakan manusia maka teori belajar humanistik mampu memberikan arah terhadap semua komponen pembelajaran untuk mendukung tercapainya tujuan yang ingin dicapai atau direncanakan sebelumnya.

Semua komponen pendidikan, termasuk di dalamnya tujuan pendidikan diarahkan pada terbentuknya manusia yang ideal, manusia yang dicita-citakan, yaitu manusia yang mampu mencapai aktualisasi diri. Untuk itu sangat perlu diperhatikan bagaimana perkembangan peserta didik dalam mengaktualisasikan dirinya, pemahaman terhadap dirinya, serta realisasi diri. Pengalaman emosional dan karateristik khusus individu dalam belajar perlu diperhatikan oleh guru dalam merencanakan pembelajaran. Seseorang akan dapat belajar dengan baik apabila mempunyai pengertian tentang dirinya sendiri dan dapat membuat pilihan-pilihan secara bebas ke arah mana ia akan berkembang. Dengan demikian teori belajar humanistik mampu menjelaskan bagaimana tujuan ideal tersebut dapat dicapai dan serta memudahkan pencapaiannya.

Teori belajar humanistik akan sangat membantu para pendidik dalam memahani arah belajar pada dimensi yang lebih luas, sehingga upaya pembelajaran apapun dan pada konteks manapun akan selalu diarahkan dan dilakukan untuk mencapai tujuannya. Meskiun teori ini masih sulit diterapkan ke dalam langkah-langkah pembelajaran yang praktis dan operasional, namun sumbangannya begitu besar. Ide-ide, konsep-konsep, taksonomi-taksonomi tujuan yang telah dirumuskannya dapat membantu para pendidik dan guru dalam memahami hakekat manusia.

Hal ini akan dapat membantu mereka dalam menentukan komponen-komponen pembelajaran seperti perumusan tujuan, penentuan materi, pemilihan strategi pembelajaran, serta pengembangan alat evaluasi, ke arah pembentukan manusia yang dicita-citakan dan sudah di rencanakan tersebut. Selain itu diperlukan pendukung seperti rancangan yang sistematis.

Kegiatan pembelajaran yang dirancang secara sistematis, tahap demi tahap secara ketat, sebagaimana tujuan-tujuan pembelajaran yang telah dinyatakan secara eksplisit dan dapat diukur, kondisi belajar yang diatur dan ditentukan, serta pengalaman-pengalaman belajar yang dipilih siswa, mungkin saja berguna bagi guru tetapi tidak berguna bagi siswa. Menurut teori belajar humanistik, agar belajar lebih bermakna bagi siswa, maka diperlukan inisiatif dan keterlibatan penuh dari siswa sendiri, sehingga siswa akan mendapatkan pengalaman belajar.

B. Tokoh berikut Aliran Teory Belajar Humanisme
1. Abraham Maslow
Maslow berpandangan bahwa manusia yang wajar/sehat jiwanya adalah manusia yang mengembangkan dirinya berdasarkan kekuatan-kekuatan dari dalam dirinya sendiri. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa individu yang demikianakan diberikan suatu kesempatan untuk memilih terhadap pilihan-pilihan yang ada dan mengontrol perilakunya. Di sini kita dapat melihat bahwa individu atau peserta didik akan di berikan kebebasan sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Sedangkan pendidik hanya berperan sebagai fasilitator dan motivator dan fungsi pendukung lainnya yang mana kesemua itu ditujukan membantu individu dalam pemantapan kemampuanya. Ini sesuai degan teorinya motivasi. Yang berawal dari pra-anggapan bahwa manusia adalah baik,setidaknya netral, tidak jahat sehingga individu hanya perlu di arahkan untuk semakin baik yang mana melalui penangkapan panca inderanya.
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal :
(1)   suatu usaha yang positif untuk berkembang
(2)   kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.
Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis.
Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri(self).Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan ras aman dan seterusnya. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperharikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar ini mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.
Dalam teori hirarki kebutuhan, menjelaskan ada lima macam kebutuhan manusia yang berjenjang ke atas. Dalam hal inikebutuhan yang lebih tinggi akan terpenuhi jika kebutuhan yang lebih rendah ataudi bawahnya harus terpenuhi terlebih dahulu. Lima kebutuhan manusia menurut Maslow tersebut yaitu:
1.      Kebutuhan dasar atau fisiologis (basic needs/psysiological)
2.      Kebutuhan akan rasa aman (safety needs)
3.      Kebutuhan untuk dimilikin dan dicintai (belonginess needs)
4.      Kebutuhan akan harga diri (esteem needs)
5.      Kebutuhan aktualisasi diri (self actualization needs)
Dari ke lima kebutuan tesebut Maslow kemudian membaginya menjadi dua kelompok yaitu pertama: empat kebutuhan terbawah yang disebut  deficiency needs(kebutuhan yang timbul klerena kekurangan). Dan pemenuhan kebutuhan ini pada umumnya bergantung pada orang lain. Dalam hal ini dapt dikataka bahwa individu tidak dapat mencapai kebutuhan-kebutuhan ini tanpa hadirnya suatu bantuan dari pihak lain. Kedua yaitu pada kebutuhan yang teratas yaitu menyangkut aktualisasi diri individu, dalam hal ini individu harus melakukan sendiri dan pihak lain seperti guru hanya memberikan kebebasan pada individu untuk mengaktualisasikan dirinya sesuai dengan bakat dan kemampuannya.
2. Carl Rogers
Carl Rogers lahir 8 Januari 1902 di Oak Park, Illinois Chicago, sebagai anak keempat dari enam bersaudara. Semula Rogers menekuni bidang agama tetapi akhirnya pindah ke bidang psikologi. Ia mempelajari psikologi klinis di Universitas Columbia dan mendapat gelar Ph.D pada tahun 1931,


sebelumnya ia telah merintis kerja klinis di Rochester Society untuk mencegah kekerasan pada anak.Gelar profesor diterima di Ohio State tahun 1960. Tahun 1942, ia menulis buku pertamanya, Counseling and Psychotherapy dan secara bertahap mengembangkan konsep Client-Centerd Therapy. Rogers membedakan dua tipe belajar, yaitu:
    1. Kognitif (kebermaknaan)
    2. Experiential ( pengalaman atau signifikansi)
Guru menghubungan pengetahuan akademik ke  dalam pengetahuan terpakai seperti memperlajari mesin dengan tujuan untuk memperbaikai mobil. Experiential Learning menunjuk pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan siswa. Kualitas belajar experiential learning mencakup : keterlibatan siswa secara personal, berinisiatif, evaluasi oleh siswa sendiri, dan adanya efek yang membekas pada siswa.
Carl R. Rogers kurang menaruh perhatian kepada mekanisme proses belajar. Belajar dipandang sebagai fungsi keseluruhan pribadi. Mereka berpendapat bahwa belajar yang sebenarnya tidak dapat berlangsung bila tidak ada keterlibatan intelektual maupun emosional peserta didik. Oleh karena itu, menurut teori belajar humanisme bahwa motifasi belajar harus bersumber pada diri peserta didik.
Roger membedakan dua ciri belajar, yaitu: (1) belajar yang bermakna dan (2) belajar yang tidak bermakna. Belajar yang bermakna terjadi jika dalam proses pembelajaran melibatkan aspek pikiran dan perasaan peserta didik, dan belajar yang tidak bermakna terjadi jika dalam proses pembelajaran melibatkan aspek pikiran akan tetapi tidak melibatkan aspek perasaan peserta didik.
Bagaimana proses belajar dapat terjadi  menurut teori belajar humanisme?. Orang belajar karena ingin mengetahui dunianya. Individu memilih sesuatu untuk dipelajari, mengusahakan proses belajar dengan caranya sendiri, dan menilainya sendiri tentang apakah proses belajarnya berhasil.


Menurut Roger, peranan guru dalam kegiatan belajar siswa menurut pandangan teori humanisme adalah sebagai fasilitator yang berperan aktif dalam :
(1)   Membantu menciptakan iklim kelas yang kondusif agar siswa bersikap positif terhadap  belajar,
(2)      Membantu siswa untuk memperjelas tujuan belajarnya dan memberikan kebebasan  kepada siswa untuk belajar,
(3)      Membantu siswa untuk memanfaatkan dorongan dan cita-cita mereka sebagai kekuatan pendorong belajar,
      (4).  Menyediakan berbagai sumber belajar kepada siswa,
      (5). Menerima pertanyaan dan pendapat, serta perasaan dari berbagai siswa sebagaimana        adanya.
Dinamika Kepribadian
Dalam dinamika kepribadian Carl Rogers mengenal tiga istilah , yang dapat dikaitkan dengan pembelajaran, yaitu:
1. Anggapan positif tanpa syarat (uncoditonal positive regard)
Dalam hal ini guru harus memliki anggapan positif atau menerima suatu keadaan peserta didik dengan tulus (apa adanya individu). Di sini sudah jelas bahwa seorang pendidik ditubtut untuk menganggap bahwa aemua anak didik atau peserta didik yang dihadapi adalah baik. Anggapan positif sendiri memiliki arti kebutuhan untuk menjadi disukai, dihargai, atau diterima secara positif dari pihak lain.contoh: dalam bidang seni siswa kurang kemampuannya, tapi memiliki kelebihan di bidang akademik maka guru harus tetap menerima keberadaan siswa tersebut.jika kemampuan akademiknya diterima secara positif maka dia akan merasa puas,dan secara otomatis akan melakukan hal yang sama. Yaitu siswa akan menerima dan memuji kelebihan orang lain.
2. Kesesuaian Diri (self cosistensy and congruence)
Merupakan adanya kesesuaian antara persepsidiri dengan pengalaman. Dalam kasus ini dapat dikatakan terjadi suatu hal yang berbeda dengan pengalaman atau kebiasaan. Misalnya: se0rang siswa yang mempersepsikan dirinya pandai bahasa inggris, namun saat ulangan mendapat nilai yang jelek dan kemudian akan timbul kekecewaan sehingga mengakibatkan anak itu malas untuk belajar. Sebagai guru yang humanis, peidik harus memotivasi siswa agar lebih meningkatkan belajarnya lagi dan menyadari akan kekurangannya.
3. Aktualisasi Diri (self actualization)
Dalam hal ini individu di pandang terus menerus bergerak maju.yang mana seorang individu harus bisa dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan yang nyata pada suatu saat nanti. Misalnya seorang siswa ahli fisika maka suatu saat dia haruslah engaplikasikan keahliannya tersebut dalam kenyataan seperti menjadi seorang ahli fisikawan.
Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu:
1.      Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.
2.      Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa
3.      Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
4.      Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.

Dari bukunya Freedom To Learn, ia menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip dasar humanistik yang penting diantaranya ialah :
a.       Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.
b.      Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri.
c.       Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri diangap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
d.      Tugas-tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil.
e.       Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
f.       Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
g.      Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggungjawab terhadap proses belajar itu.
h.      Belajar inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
i.        Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain merupakan cara kedua yang penting.
j.        Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam diri sendiri mengenai proses perubahan itu.
Salah satu model pendidikan terbuka mencakuo konsep mengajar guru yang fasilitatif yang dikembangkan Rogers diteliti oleh Aspy dan Roebuck pada tahun 1975 mengenai kemampuan para guru untuk menciptakan kondidi yang mendukung yaitu empati, penghargaan dan umpan balik positif. 
Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah :
  1. Merespon perasaan siswa
  2. Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang
  3. Berdialog dan berdiskusi dengan siswa
  4. Menghargai siswa
  5. Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan
  6. Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa (penjelasan untuk mementapkan kebutuhan segera dari siswa)
  7. Tersenyum pada siswa

Dari penelitian itu diketahui guru yang fasilitatif mengurangi angka bolos siswa, meningkatkan angka konsep diri siswa, meningkatkan upaya untuk meraih prestasi akademik termasuk pelajaran bahasa dan matematika yang kurang disukai, mengurangi tingkat problem yang berkaitan dengan disiplin dan mengurangi perusakan pada peralatan sekolah, serta siswa menjadi lebih spontan dan menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi.

3. Arthur Combs
Bersama dengan Donald Snygg (1904-1967) mereka mencurahkan banyak perhatian pada dunia pendidikan. Meaning (makna atau arti) adalah konsep dasar yang sering digunakan. Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah dati ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya.
Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah dari ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya. Untuk itu guru harus memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada.
Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain. Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.
Untuk itu guru harus memahami perlaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain. Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.
Combs memberikan lukisan persepsi diri dalam dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu..
1.  Lingkaran kecil adalah gambaran dari persepsi diri
2. Lingkungan besar adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.
Dalam proses  belajar, sesungguhnya ada dua hal penting menurut ahli psikologi humanisme, yaitu:
1. Pemerolehan Informasi Baru
Dalam hal ini peserta didik kan lebih tertarik, jika apa yang dipelajari akaan menjadi suatu informasi yang baru baginya. Yang seperti ini akan membuat perasaan ingin tahu yang tinggi pada diri siswa tersebut. Dimana infrmasi yang baru itu haruslah relevan dan dapat diaplikasikan dengan kehidupannya. Dikatakan relevan berarti informasi tersebut haruslah sesuai atau tidak betentangan dengan informasi yang sudah lama di dapatkan oleh peserta didik sebelumnya dalam pembelajaran lain. Ini dilakukan agar tidak terjadi perbedaan pemahaman ataupun tumpang tindih informasi yang didapat.
2. Personalisasi informasi baru
Dalam hal ini informasi baru yang diperoleh bukan merupakan hasil transfer trafer langsung dari pediik kepada peserta didik, melainkan merupakan hasil dari pencernaan dan pengolahan yang di lakukan peserta didik dari informasi yang disampaikan oleh pendidik.




4. Kolb
Menurut Kolb teori belajar dibagi dalam empat tahap yaitu: tahap pengalaman konkret, tahap pengamatan aktif dan reflektif, tahap konseptualisasi, dan tahap eksperimentasi aktif. Pada tahap pengalaman konkret belajar adalah seseorang mampu atau dapat mengalami suatu peristiwa atau suatu kejadian sebagaimana adanya. Pada tahap pengamatan aktif dan reflektif belajar harus member kesempatan kepada seluruh siswa melakukan observasi secara aktif terhadap peristiwa yang dialaminya. Pada tahap konseptualisasi, setelah siswa diberi kebebasan melakukan pengamatan, maka selanjutnya siswa diberi kebebasan untuk merumuskan konseptualisasi hasil pengamatannya. Artinya siswa berupaya untuk membuat abstraksi, mengembangkan teori, konsep atau hokum dan prosedur tentang sesuatu yang menjadi objek perhatiannya. Sedangkan pada tahap eksperimen aktif, belajar harus mampu melakukan eksperimentasi secara aktif. Seseorang sudah mampu mengaplikasi konsep-konsep, teori-teori, atau aturan-aturan ke dalam situasi nyata. Tahap-tahap teori ini tidak dapat dipisahkan, karena suatu siklus yang berkesinambungan dan berlangsung di luar kesadaran orang yang belajar.

A. Kelebihan dan Kelemahan Teory Belajar Humanisme
1. Kelebihan Teori Belajar Humanisme
a. Dalam pembelajaran teory ini, siswa dituntut untuk berusaha agar lambat laun mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya.
b. Belajar akan lebih cepat di pahami dan dimengerti peserta didik karena bahan yang dipelajari relevan dengan kebutuhan atau kemampuan yang dimiliki oleh siswa.
c. Kondisi belajar akan lebih partisipatif dan efektif, karena dalam teori belajar ini siswa diberikan kebebasan untuk menggali kemampuan pada dirinya. Dan kebebasan, kreativitas, dan kepercayaan diri dalam belajar dapat ditingkatkan dengan evaluasi diri sendiri dan evaluasi dari orang lain tidak begitu penting karena pada dasarnya merupakan pemantapan kemampuan pada dirinya.           
2. Kelemahan Teory Belajar Humanisme
a. Dalam pembelajaran teori ini, peserta didik kesulitan dalam mengenal diri dan potensi-    potensiyang ada pada diri mereka.
BAB III
APLIKASI TEORY BELAJAR HUMANISME TERHADAP PEMBELAJARAN

A. Peserta Didik dan Guru
1. Peserta Didik
Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.
Dalam teori pembelajaran humanisme,peserta didik akan ditempatkan sebagai pusat atau bahan perhatian dalam aktifitas belajar. Kemudian peserta didik juga menjadi pelaku dalam memaknai pengalaman belajarnya sendiri. Dengan demikian, peserta didik dituntut untuk berperan aktif, kreatif dan inisiatif. Karena siswa akan diberikan kebebasan untuk mengepresikan kemampuan yang dimilikinya dan bukan merupakan sekedarmenerima informasi dari guru/pendidik.
2. Guru
Dalam pembelajaran humanism peran guru adalah menjadi fasilitator bagi peserta didiknya dengan cara member motifasi dan memfasilitasi pengalaman belajar, dengan menerapkan strategi pembelajaran yang sesuai  terhadap kebutuhan peserta didik sehingga akan tercipta suasana yang aktif, yang tentu diikuti dengan penyampaian yang sistematis.
Psikologi humanisme memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator. Berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas fasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa (petunjuk):
1.      Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas

2. Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
       3. Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-         tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam      belajar yang bermakna tadi.
        4.  Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan  mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
 5.  Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat  
    dimanfaatkan oleh kelompok.
       6.  Menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang     
            bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara   
            yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok
      7.   Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan  
             sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut
             menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.
8.    Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa
9.      Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan      
   yang dalam dan kuat selama belajar
10.  Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk menganali  dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.









 B. Aktifitas Dalam Proses Pembelajaran
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses     yang umumnya dilalui adalah :
  1. Merumuskan tujuan belajar yang jelas
  2. Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan positif.
  3. Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri
  4. Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri
  5. Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan.
  6. Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
  7. Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya
  8. Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa
                                    
Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterpkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.




C. Bentuk-bentuk  Pendidikan Humanisme
1. Pendidikan Terbuka (Open Education)
Pendidikan terbuka adalah proses pendidikan yang memberikan kesempatan kepada murid untuk bergerak secara bebas di sekitar kelas dan memilih aktifitas belajar mereka sendiri. Dimana dalam hal ini guru hanya berperan sebagai fasilitator dan motivator serta menjadi pembimbing mereka(peserta didik) dalam belajar. Dalam proses seperti ini biasanya lingkungan fisik kelas berbeda dengan kelas tradisional. Individu/peserta didik dalam proses belajarni tidak hanya sekedar menjadi pendengar informasi yang disampaikan oleh pendidik. Tapi diharapkan pesrta didik mampu untuk berkreasi dan berperan aktif terhadap proses belajar. Sehingga memungkinkan munculnya keterampilan-keterampilan atau sutu keinginan-keinginan tertentu.
Adapun kriteria yang disyaratkan dengan pendidikan ini antara lain:
1.  Tersedia fasiliyas yang memudahkan proses belajar
2. Tidak adanya larangan pada peserta diik untuk bergerak secara bebas di ruang kelas, serta      pengeksplorasian dari kemampuannya.
3. Adanya suasana yang harmonis, penuh kasih saying,hangat, saling menghargai dan keterbukaan.
4.  Jika terjadi suatu masalah pribadi dengan peserta didik, pendidik akan menyelesaikannya         dengan jalan komunikasi secara pribadi dengan peserta didik yang bersangkutan tanpa melibatkan kelompok atau pihak lain yang tidak berhubungan.
 5. Adanya kesempatan untuk professional guru, maksudnya guru dapoat menggunakan  bantuan pihak lain seperti: asiaten pengajar atau sejenisnya.




2. Pembelajaran Mandiri (Independent Learning)
Pembelajaran mandiri adalah proses pembelajaran yang menuntut murid menjadi subjek yang dapat merancang, mengatur, dan mengontrol kegiatan mereka sendiri secara bertanggung jawab. Pembelajaran mandiri juga dapat dikatakan sebagai suatu system pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat melakukannya sendiri dan tidak tergantung pada factor guru, teman, atau faktor lainnya. Dalam pembelajaran model ini peran seorang pendidik yaitu memfasilitasi, mengkomunikasikan dan mendukung siswa dalam menggunakan keterampilan yang telah mereka miliki.
Pembelajaran mendiri juga dapat diartikan proses pembelajaran yang mengajak siswa melakukan tindakan mandiri. Tindakan mandiri ini dirancang untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan kehidupan siswa sehari-hari secaraa sedemikian rupa untuk mencapai tujuan yang bermakna. Tujuan ini mungkin menghasilkan hasil yang nyata. Dalam pembelajaran ini membebaskan siswa untuk belajarsesuai dengan gaya belajar mereka sendiri, sesuai dengan kecepatan belajar mereka dan sesuai dengan ara minat dan bakat dalam menggunakan kecerdasan majemuk yang mereka miliki. Dalam pelaksanaannya, proses ini cocok untuk pembelajaran ditingkat atau level perguruan tinggi, yang mana pada level/tingkat tersebut lebih menuntut kemandirian dari peserta didik.










BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Demikian yang dapat kami berikan kepada sahabat-sahabat mahasiswa, dapat kami berikan sedikit kesimpulan awal, bahwa:
  1. Teori Belajar Humanistik adalah suatu teori dalam pembelajaran yang mengedepankan bagaimana memanusiakan manusisa serta peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya
  2. Tokoh dalam teori ini adalah Abraham Maslow, C. Roger, Arthur Comb, dan Kolb
3.      Aplikasi dalam teori ini, Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak   terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku. Serta guru hanya sebagai fasilitator, motivator dan pembimbing
4.      Bentuk-bentuk pembelajaran dalam teori humanisme yaitu: Pendidikan Terbuka (Open Education) dan Pembelajaran Mandiri (Independent Learning)
B. Saran
Kami menyadari sebagai manusia biasa tidak luput dari kesalahan dan kekuragan, untuk itu demi penyempurnaan makalah ini, kami minta saran dari pembaca dan kami menyarankan untuk dilakukan penelitan lanjut, yang munakain akan menghasilkan suatu karya tulis/makalah yang lebih sempurna.









DAFTAR PUSTAKA

Dakir.1993. Dasar-dasar Psikologi. Jakarta: Pustaka Pelajar.
Uno, Hamzah.2006.Orientasi baru Dalam Psikologi Perkembangan.  Jakarta: Bumi aksara.
Hadis, Abdul.2006.Psikologi Dalam Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Karwono dan Heni Mularsih.2010.Belajar dan Pembelajaran Serta Pemanfaatan Sumber    
                 Belajar.Ciputat: penerbit cerdas jaya.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar